Pages

Caleg Stres Mengunjungi Paranormal

KabarIndonesia - Hari ini saya mendengar berita di Metro TV tentang seorang mantan caleg yang gagal menjadi anggota legislatif. Walaupun perhitungan suara baru saja dimulai KPU, mantan caleg ini sudah yakin bahwa dirinya tidak akan terpilih. Padahal pemuda yang usianya dikatakan 29 tahun ini sudah menghabiskan dana sekitar 300 juta untuk keperluan kampanye. Alhasil menurut keluarga, tidak lama setelah perhitungan suara usai, pemuda ini mulai menunjukkan tanda-tanda stres di antaranya mulai mengurung diri di kamar.

Perkiraan para pengamat dan kalangan kesehatan jiwa di beberapa di RS Jiwa Negeri memang tepat. Dikatakan akan banyak mantan-mantan caleg yang bisa terkena gangguan jiwa akibat gagal dalam pemilu yang baru saja usai. Beberapa RS Jiwa bahkan menyiapkan diri untuk menampung para mantan caleg stres ini. Dari kamar biasa sampai ruangan VIP ala hotel.

Sayangnya yang terdengar di berita Metro TV sangat berbeda dengan perkiraan itu. Pemuda ini malah datang ke tempat paranormal yang menyediakan juga layanan untuk menampung mantan caleg gagal. Ritual mandi dan pembersihan jiwa juga dilakukan dengan dosis yang mirip-mirip dengan terapi kesehatan jiwa ala profesional seperti psikiater dan psikolog.

Dikatakan pasien yang datang harus melewati dua kali rangkain terapi. Pengelola tempat juga kabarnya telah menerima pesanan tempat untuk mantan caleg-caleg lain yang gagal. Pokoknya si mantan caleg lebih memilih pengobatan alternatif ke paranormal daripada berkunjung ke psikiater di RS Jiwa.

Saya dalam tulisan di koran Suara Pembaruan edisi 5 April 2009 juga mengatakan bahwa euforia RS Jiwa menampung caleg gagal harus dibatasi pada kenyataan adanya stigma pada psikiater, RS Jiwa dan pasien gangguan jiwa di masyarakat. Kebanyakan masyarakat kita enggan untuk datang ke psikiater karena stigma Gila seperti yang disebut-sebut oleh sebagian besar masyarakat kita sendiri. Bayangkan saja koran sekaliber Kompas tanpa ragu pada feature mereka tanggal 5 April 2009 (Awas, Ada Caleg (berbakat) Gila!) menuliskan kata Gila dan Edan yang merujuk pada gangguan jiwa yang akan dialami caleg gagal pada awal tulisan (...Akan tetapi sudah siapkah mereka untuk terganggu jiwanya alias gila alias edan setelah itu?

Hal ini membuktikan bahwa pasien jiwa masih selalu dihubungkan dengan kata gila, edan, tidak waras, berbahaya, menyeramkan dan predikat buruk lainnya. Padahal rasanya kalau mau jujur di antara kita semua, pasti ada suatu masa dalam kehidupan kita yang terganggu kesehatan jiwanya. Contoh gampang saja seorang eksekutif muda yang marah-marah akibat tekanan pekerjaan, atau malah kita sendiri yang marah-marah dan sakit kepala melihat kemacetan di Jakarta. Itu hanya sebagian contoh kecil bahwa setipa orang mempunyai kesempatan dalam hidupnya mengalami gangguan kesehatan jiwa.

Maka dari itu mari kita sama-sama mengurangi stigma gangguan jiwa di masyarakat, sehingga masyarakat tidak takut untuk berobat ke profesional di bidang kesehatan jiwa dan bukan ke tempat-tempat alternatif yang belum terbukti secara ilmiah cara pengobatannya. (*)

Oleh : Dr. Andri,psikiater
* Penulis, Pengajar di FK UKRIDA, Penanggung Jawab Klinik Psikosomatik RS Omni Internasional, Anggota The Academy of Psychosomatic Medicine dan The American Psychosomatic Society

0 komentar: