"Bangsaaat...! Ketangkep juga akhirnya..."
Gedabak-gedebuk, bogem mendarat dimuka.....
Pemulung tua terjengkang..pingsan..ketika mencoba menurunkan
baliho bagus gambar caleg, dipinggiran jalan sepi, di separo malam...
Ketika sadar pemulung tua terduduk dibangku kayu disebuah ruang interograsi...........
"Disuruh siapa kamu menurunkan baliho?"
"Tidak ada!"
"Ngaku kamu ! dibayar berapa kamu?.Oleh siapa?"
"Tidak ada!"
"Jadi apa maksud kamu? mau melawan pemerintah? Mau menggagalkan Pemilu?"
"Tidak", pemulungpun menangis menyesali
"Kenapa, menangis...hah?"
Terbata-bata pemulung menuturkan kisahnya;
" Tadi sore ada angin ribut, gubuk tuaku diterpa angin kencang sehingga atapnya hilang entah kemana. Istriku sedang sakit sementara anakku kedinginan. Semua pakaian dan isi gubukku basah. Aku tak ada uang untuk membeli obat, tak ada makanan untuk mengganjal perut anakku, tak ada waktu untuk mencari pelindung gubukku. Terpaksa aku turunkan, baliho ini. Aku pikir baliho ini akan menolongku untuk malam ini. Melindungi rakyat-rakyat kecil dari kedinginan dan kelaparan dan kesengsaraan dan penyakitan.dan...dan...", pengemis tua tak mampu meneruskan kesal dan takutnya.
"Stop ! Stop ! Stop !......Stop...!"
Semua terdiam.
"Begini Pak Tua, kami percaya kamu berkata jujur, kalau itu masalahnya, ini ...ada sedikit sembako untuk anak istrimu...ini sedikit uang untuk beli obat istrimu....dan untuk atap gubukmu, ....ada banyak baliho baliho bekas digudang...yang sudah tak terpakai", para satgas sudah mulai melunak.
....................
Pemulung tua tersentak, ach....dua pukulan itu harganya cukup banyak...ada makanan,ada uang dan ada baliho-baliho bekas bakal merapikan gubuknya....malam ini juga.
-------------------------
Dengan tersengal-sengal, dikegelapan malam pemulung pulang kegubuknya. Hatinya bersenandung lagu pilu dan menangis kesenangan.....ada uang disaku bajunya, ada makanan di tentengannya, ada segulung besar baliho-baliho bekas...dipanggulannya....terengah-engah...
Dibangunkannya istrinya untuk memasak, dibangunkan anaknya untuk sepotong roti...yang dia bawa dari tempat sampah kantor satgas.
Istrinya merangkul haru, anaknya memeluk manja...ada kebahagian diantara kemiskinan mereka...masih ada airmata...itu belum kering.
Tapi....pemulung tua malah terbengong..melongo...!
ketika menggelar baliho-baliho bekas..untuk atap dan dinding gubuk dia...ternyata.....
baliho itu...adalah baliho caleg-caleg lain dari partai yang berbeda....
...Pemulung tua menggigil ...ketakutan....
Besok, bogem siapa lagi yang akan mendarat dimuka dan dadanya....demi kasihnya pada istri dan anaknya....
.........................................
Salam
Meng S
(Gigolo Politik)


0 komentar:
Poskan Komentar